|
Pendahuluan
Sistem
pencernaan terdiri dari saluran pencernaan dan organ-organ yang
berkaitan. Saluran pencernaan adalah sebuah tabung berlekuk melintang
sepanjang sekitar 7 m, tempat lewat makanan saat makanan terurai.
Jalur pencernaan terdiri dari mulut, kerongkongan (pharynx),
oesophagus, lambung, usus-halus dan usus-besar, rektum, serta anus.
Organ pencernaan yang terkait, mencakup tiga pasang kelenjar ludah,
hati, pankreas, serta empedu. Saluran pencernaan yang terletak di
bawah area diafragma disebut saluran gastrointestinal.
Fungsi sistem pencernaan
a. Ingesti adalah masuknya makanan ke dalam mulut.
b. Pemotongan dan penggilingan makanan dilakukan secara mekanik oleh gigi. Makanan kemudian bercampur dengan saliva sebelum ditelan (menelan).
c. Peristalsis adalah gelombang kontaksi otot polos involunter yang menggerakkan makanan tertelan melalui saluran pencernaan.
d. Digesti adalah hidrolisis kimia (penguraian) molekul besar menjadi molekul kecil sehingga absorpsi dapat berlangsung.
e.
Absorpsi adalah pergerakan produk akhir pencernan dari lumen saluran
pencernaan ke dalam sirkulasi darah dan limfatik sehingga dapat
digunakan oleh sel tubuh.
f.
Egesti (defekasi) adalah proses eliminasi zat-zat sisa yang tidak
tercerna, juga bakteri, dalam bentuk feses dari saluran pencernaan 
Gambaran garis besar saluran pencernaan
a. Dinding saluran
Tersusun dari 4 lapisan jaringan dasar dari lumen (rongga sentral) ke arah luar. Komponen lapisan pada setiap regia bervariasi sesuai fungsi regia.
1) Mukosa
Membran mukosa terdiri dari tiga lapisan :
a) Epitelium
yang melapisi berfungsi untuk perlindungan, sekresi dan absorpsi. Di
bagian ujung oral dan anal saluran, lapisannya tersusun dari epitelum
skuamosa bertingkat tidak terkeranisasi untuk perlindungan. Lapisan
ini terdiri dari epitelium kolumnar sampel dengan sel goblet di area
tersebut yang dikhususkan untuk sekresi dan absorpsi.
b)
Lamina propria adalah jaringan ikat areolat yang menopang epitelium.
Lamina ini mengandung pembuluh darah, limfatik, nodulus limfe dan
beberapa jenis kelenjar.
c) Muskularis mukosa terdiri dari lapisan sirkular dalam yang tipis dan lapisan otot polos longitudinal luar.
2) Submukosa
Terdiri
dari jaringan ikat areolar yang mengandung pembuluh darah, pembuluh
limfatik, beberapa kelenjar submukosal dan pleksus serabut saraf,
serta sel-sel ganglion yang disebut pleksus Meissner (Pleksus
submukosal). Submukosa mengikat mukosa ke muskularis eksterna.
3) Muskularis eksterna
Terdiri
dari dua lapisan otot, satu lapisan sirkular dalam dan satu lapisan
longitudinal luar. Kontraksi lapisan sirkular mengkonstriksi lumen
saluran dan kontraksi lapisan longitudinal memperpendek dan
memperlebar saluran. Kontraksi ini mengakibatkan gelombang peristalsis
yang menggerakkan isi saluran ke arah depan.
4) Serosa (adventisia).
Lapisan ke empat dan paling luar juga disebut peritoneum viseral. Lapisan ini terdiri dari membran serosa jaringan ikat renggang yang dilapisi epitelium skuamosa simpel.
b. Peritoneum, mesenterium dan omentum abdominopelvis adalah membran serosa terlebar dalam tubuh.
1) Peritoneum parietal melapisi rongga abdominopelvis
2) Peritoneum viseral membungkus organ dan terhubungkan ke peritoneum parietal oleh berbagai lipatan.
3) Rongga peritoneal adalah ruang potensial antara viseral dan peritoneum parietal.
4) Mesenterium dan omentum adalah lipatan jaringan peritoneal berlapis ganda yang merefleks balik dari peritoneum viseral. Lipatan ini berfungsi untuk mengikat organ-organ abdominal satu sama lain dan melabuhkannya ke dinding abdominal belakang. Pembuluh darah, limfatik dan saraf terletak dalam lipatan peritoneal.
c. Kendali saraf pada saluran pencernaan
Susunan
saraf otonom menginervasi keseluruhan saluran pencernaan, kecuali
ujung atas dan ujung bawah yang dikendalikan secara volunter.
1)
Impuls parasimpatis yang dihantarkan dalam saraf vagus (CN X),
mengeluarkan efek stimulasi konstan pada tonus otot polos dan
bertanggung jawab untuk peningkatan keseluruhan aktivitas. Efek ini
meliputi motilitas dan sekresi cairan pencernaan.
2)
Impuls simpatis yang dibawa medula spinalis dalam saraf splanknik,
menghambat kontraksi otot polos saluran, mengurangi motalitas dan
menghambat sekresi cairan pencernaan.
3) Pleksus Meissner dan Auerbach merupakan sisi sinaps untuk serabut raganglionik parasimpatis. Pleksus ini juga berfungsi untuk pengaturan kontraktil lokal dan aktivitas sekretori saluran.
1. Mulut dan oesophagus
Proses
pencernaan dimulai dari mulut. Rongga vestibulum (bukal) terletak di
antara gigi dan bibir dan pipi sebagai batas luarnya. Rongga oral utama
dibatasi gigi dan gusi di bagian depan, palatum lunak dan keras di
bagian atas, lidah di bagian bawah dan orofaring di bagian belakang.
Gerakan
gigi dan lidah ketika mengunyah melumat makanan menjadi bagian-bagian
kecil lunak untuk ditelan, sedangkan zat-zat dalam ludah mulai
mengurai karbohidrat dalam makanan. Ketika menelan, lidah mendorong
campuran makanan dan ludah (bolus) melalui kerongkongan ke oesophagus.
Sementara langit-langit lunak menutup rongga hidung, epiglottis
(sebuah penutup kecil dari tulang-rawan di pangkal lidah) bergerak
menutup larynx.
 1) Bibir
Bibir tersusun dari otot rangka (Orbikularis mulut) dan jaringan ikat. Organ ini berfungsi untuk menerima makanan dan produksi wicara.
Mengandung
otot buksinator mastikasi. Lapisan epitelial pipi merupakan subjek
abrasi dan sel secara konstan terlepas untuk kemudian diganti dengan
sel-sel baru yang membelah dengan cepat.
Lidah
dilekatkan pada dasar mulut oleh frenulum lingua. Lidah berfungsi
untuk menggerakkan makanan saat dikunyah atau ditelan, untuk pengecapan
dan dalam produksi wicara.
Kelenjar saliva mensekresi saliva ke dalam rongga oral. Saliva terdiri dari cairan encer yang mengandung enzim dan cairan kental yang mengandung mukus.
Gigi
tersusun dalam kantong-kantong (elveoli) pada mandibula dan maksila.
Setiap lengkung barisan gigi pada rahang membentuk lengkung gigi.
Lengkung bagian atas lebih besar dari bagian bawah sehingga gigi-gigi
atas secara normal akan menutup (overlap) gigi bawah.
Manusia
memiliki 2 susunan gigi : gigi primer dan gigi sekunder. Gigi primer
dalam setengah lengkung gigi (dimulai dari ruang di antara dua gigi
depan) terdiri dari dua gigi seri, satu taring, dua geraham (molar),
untuk total keseluruhan 20 gigi. Gigi sekunder mulai keluar pada usia lima
sampai enam tahun. Setengah dari lengkung gigi terdiri dari dua gigi
seri, satu taring, dua premolar (bikuspid) dan tiga geraham
(trikuspid), untuk total keseluruhan 32 buah. Geraham ketiga disebut
"gigi bungsu".
Gigi berfungsi dalam proses mastikasi
(pengunyahan). Makanan yang masuk dalam mulut dipotong menjadi
bagian-bagian kecil dan bercampur dengan saliva untuk membentuk bolus
makanan yang dapat ditelan.
Proses menelan (deglutisi) menggerakkan makanan dari faring menuju esofagus. Aksi penelanan meliputi tiga fase :
Lidah menekan palatum keras saat rahang menutup dan mengarahkan bolus ke arah orofaring.
Bolus
makanan dalam faring merangsang reseptor orofaring yang mengirim
impuls ke pusat menelan dalam medula dan batang otak bagian bawah.
Refleks yang terjadi adalah penutupan semua lubang kecuali esofagus
sehingga makanan bisa masuk.
Sfingter
esofagus bawah, suatu area sempit otot polos pada ujung bawah
esofagus dalam kontraksi tonus yang konstan, berelaksasi setelah
melakukan gelombang peristaltik dan memungkinkan makanan terdorong ke
dalam lambung. Sfingter kemudian berkontriksi untuk mencegah
regurgitasi (refluks) isi lambung ke dalam esofagus.
Esofagus
merupakan suatu organ silindris berongga dengan panjang sekitar 25 cm
dan berdiameter 2 cm, yang terbentang dan hipofaring hingga kardia
lamburig. Esofagus terletak di posterior jantung dari trakea, di
anterior vertebra, dan menembus hiatus diafragma tepat di anterior
aorta. Esofagus terutama berfungsi menghantarkan bahan yang dimakan dari faring ke lambung.
Pada
kedua ujung esofagus terdapat otot sfingter Otot krikofaringeus
membentuk sfingter esofagus bagian atas dan terdiri atas
serabut-serabut otot rangka. Bagian esofagus ini secara normal berada dalam keadaan tonik atau kontraksi kecuali pada waktu menelan
Sfingter
esofagus bagian bawah, walaupun secara anatomis tidak nyata,
bertindak sebagai sfingter dan berperan sebagai sawar terhadap refluks
isi lambung ke dalam esofagus. Dalam keadaan normal sfingter ini
menutup, kecuali bila makanan masuk ke dalam lambung atau waktu
bertahak atau muntah.
Dinding
esofagus seperti juga bagian lain saluran gastrointestinal, terdiri
atas empat lapisan: mukosa, submukosa, muskularis dan serosa (lapisan
luar).
Lapisan
mukosa bagian dalam terbentuk dan epitel gepeng berlapis yang
berlanjut ke faring di ujung atas epitel lapisan ini mengalami
perubahan mendadak pada perbatasan esofagus dengan lambung (garis-Z
dan menjadi epitel toraks selapis. Mukosa esofagus dalam keadaan
normal bersifat alkali dan tidak tahar terhadap isi lambung yang
sangat asam. Lapisan submukosa mengandung sel-sel sekretori yang
memproduksi mukus. Mukus mempermudah jalannva makanan sewaktu menelan
dan melindungi mukos dan cedera akibat zat kimia. Lapisan otot lapisan
luar tersusun longitudinal dan lapisan dalam tersusun sirkular. Otot
yang terdapat di 5% bagian atas esofagus adalah otot rangka, sedangkan
otot di separuh bagian bawah adalah otot polos. Bagian di antaranya
terdiri dari campuran otot rangka dan otot polos. Berbeda dengan
bagian saluran cema lainnya, tunika serosa (lapisan luar) esofagus
tidak memiliki lapisan serosa ataupun selaput peritoneum, melainkan
lapisan ini terdiri atas jaringan ikat longgar yang menghubungan
esofagus dengan struktur-struktur yang berdekatan. Tidak adanya serosa
menyebabkan semakin cepatnya penyebaran sel-sel tumor (pada kasus
kanker esofagus) dan meningkatnya kemungkinan kebocoran setelah
operasi.
Persarafan
utama esofagus dipasok oleh serabut-serabut simpatis dan parasimpatis
dan sistem saraf otonom. Serabut parasimpatis dibawa oleh nervus
vagus, yang dianggap sebagai saraf motorik esofagus. Fungsi serabut
simpatis masih kurang diketahui.
Selain
persarafan ekstrinsik tersebut, terdapat jala-jala serabut saraf
intramural intrinsik di antara lapisan otot sirkular dan longitudinal
(pleksus Auerbach atau mienterikus), dan tampaknya berperan dalam
pengaturan peristaltik esofagus normal. Jala-jala saraf intrinsik
kedua (pleksus Meissner) terdapat di submukosa saluran
gastrointestinal, tetapi agak tersebar dalam esofagus.
Fungsi
sistem saraf enterik tidak bergantung pada saraf-saraf ekstrinsik.
Stimulasi sistem simpatis dan parasimpatis dapat mengaktifkan atau
menghambat fungsi gastrointestinal. Ujung saraf bebas dan perivaskular
juga ditemukan dalam submukosa esofagus dan ganglia mienterikus.
Ujung saraf ini dianggap berperan sebagai mekanoreseptor, termoosmo,
dan kemoreseptor dalam esofagus. Mekanoreseptor menerima rangsangan
mekanis seperti sentuhan, dan kemoreseptor menerima rangsangan kimia
dalam esofagus. Reseptor termo-osmo dapat dipengaruhi oleh suhu tubuh,
bau, dan perubahan tekanan osmotik.
Distribusi
darah ke esofagus mengikuti pola segmental. Bagian atas disuplai oleh
cabang-cabang arteria tiroidea inferior dan subklavia. Bagian tengah
disuplai oleh cabang-cabang segmental aorta dan arteria bronkiales,
sedangkan bagian subdiafragmatika disuplai oleh arteria gastrika
sinistra dan frenika inferior. Aliran darah vena juga mengikuti pola
segmental.
Vena
esofagus daerah leher mengalirkan darah ke vena azigos dan hemiazigos,
dan di bawah diafragma vena esofagus masuk ke dalam vena gastrika
sinistra. Hubungan antara vena porta dan vena sistemik memungkinkan
pintas dan hati pada kasus hipertensi porta. Aliran kolateral melalui
vena esofagus menyebabkan terbentuknya varises esofagus (vena varikosa
esofagus). Vena yang melebar ini dapat pecah, menyebabkan perdarahan
yang bersifat fatal. Komplikasi ini sering terjadi pada penderita sirosis.
2. Lambung Makanan turun melalui oesophagus ke lambung. Di sana,
dalam waktu bisa sampai 5 jam, dilumat dan diurai sebagian oleh
cairan pencerna sampai menjadi zat semi-cair (chyme). Cairan yang
diminum, air misalnya, langsung melalui lambung menuju kantung kemih
dalam beberapa menit.
Lambung
terletak oblig dari kiri ke kanan yang menyilang di abdomen atas
tepat di bawah diafragma. Dalam keadaan kosong lambung berbentuk tabung
seperti huruf J dan bila penuh berbentuk seperti alpukat raksasa.
Kapasitas normal lambung satu sampai dua liter. Secara anatomis
lambung terbai atas fundus, corpus dan antrum pylorus. Pada sebelah
kanan atas lambung terdapat cekungan kurvatura mayor. Sfingter pada
kedua ujung lambung mengatur pengeluaran dan pemasukan. Sfingter kedua
( Sfingter esophagus bawah ) mengalirkan makanan masuk kedalam
lambung dan mencegah refluks isi lambung memasuki esophagus kembali.
Di saat sfingter pylorus relaksasi, makanan masuk ke dalam duodenum,
dan ketika berkontraksi sfingter ini mencegah terjadinya aliran balik
isi usus halus ke dalam lambung.
Sfingter pylorus memiliki arti
klinis yang penting karena dapat mengalami stenosis sesbagai
komplikasi dari penyakit tukak lambung. Lambung sendiri terdiri atas 4
lapisan. Tunika Serosa merupakan bagian peritoneum viseralis
yang menyatu pada kurvatura minor lambung dan duodenum, dan terus
memanjang ke arah hati membentuk omentum minus.
Bagian muskularis
tersusun menjadi tiga lapis yaitu lapisan longitudinal, sirkular dan
lapisan oblig bagian dalam. Susunan serat otot ini diperlukan untuk
memecah makanan menjadi partikel-partikel yang kecil, mengaduk dan
mencampur makanan tersebut dengan cairan lambung dan mendorongnya ke
arah duodenum. Submukosa memungkinkan mukosa bergerak bersama
gerakan peristaltic. Lapisan ini mengandung lapisan fleksus saraf,
pembuluh darah dan saluran limfe. Mukosa lapisan dalam lambung
yang tersusun dari rugae, dengan adanya rugae ini dapat berdistensi
sewaktu diisi makanan. ( Price, Sylvia, A, et al, 1995 ).
Ada beberapa tipe kelenjar pada lapisan ini menurut price, Sylvia, A, et al, 1995 yaitu :
- 1) Kelenjar kardia/kelenjar jantung ditemukan di regia mulut jantung. Ini hanya mensekresi mukus
- 2)
Kelenjar fundus/gastric terletak hampir di seluruh corpus, yamg
mana kelenjar ini memiliki tiga tipe utama sel, yaitu :
- a) Sel zigmogenik/chief cell, mesekresi pepsinogen. Pepsinogen ini diubah menjadiu pepsin dalam suasana asam. Kelenjar ini mensekresi lipase dan renin lambung yang kurang penting.
- b)
Sel parietal, mensekresi asam hidroklorida dan factor intrinsic.
Faktor intrinsic diperlukan untuk absorbsi vitamin B12 dalam usus halus.
- c)
Sel leher mukosa ditemukan pada bagian leher semua kelenjar
lambung. Sel ini mensekresi barier mukus setebal 1 mm dan
melindungi lapisan lambung terhdap kerusakan oleh HCL atau
autodigesti.
- 3)
Kelenjar pilorus terletak pada regia antrum pilorus. Kelenajr
ini mensekresi gastrin dan mukus, suatu hormon peptida yang
berpengaruh besar dalam proses sekresi lambung.
Menghambat pergerakan dan sekresi lambung. Pleksus saraf Persarafan
lambung sepenuhnya otonom. Suplai saraf parasimpatis untuk lambung dan
duodenum diantarkan dari abdomen melalui saraf vagus.
Serabut-serabut aferan menghantarkan impuls nyeri yang dirangsang oleh
peregangan, kontraksi otot dan peradangan, yang dirasakan di daerah
epigastrium. Serabut-serabut eferen simpatis mesentrikus dan submukosa
membentuk persarafan intrinsic dinding lambung dan mengkoordinasikan
aktifitas motorik dan sekresi mukosa lambung.
Suplai darah dilambung dan pancreas berasal dari arteri seliaka. Dua
cabang arteri yang penting dalam klinis adalah arteri duodenalis dan
pankreati duodenalis yang berjalan sepanjang bulbus posterior
duodenum. Tukak dinding posterior duodenum dapat mengerosi arteri itu
menyebabkan perdarahan. Darah vena dari lambung dan duodenum serta
berasal dari pankreas, limpa dan bagian lain saluran cerna berjalan ke
hati melalui vena porta.
Pengaturan sekresi lambung dapat dibagi menjadi beberapa fase menurut Price, Syvia, A, et al, 1995, yaitu :
- 1) Fase sefalik,
yang dimulai bahkan sebelum makanan masuk kelambung, yaitu
sebagai akibat melihat, mencium memikirkan atau mengecap makanan.
Sinyal neurogenik yang menyebabkan fase sefalik berasal dari
korteks serebri.
- 2) Fase gastric,
dimulai saat makanan mencapai antrum pylorus. Distensi pada
antrum menyebabkan terjadinya rangsangan mekanis dari
reseptor-reseptor pada dinding lambung. Impuls-impuls ini
merangsang pelepasan hormone gastrin dan secara lanmgsung juga
merangsang kelenjar-kelenjar lambung. Pelepasan gastrin juga
dirangsang oleh Ph alkali, garam empedu di antrum dan terrutama
oleh protein makanan dan alcohol. Gastrin adalah stimulasi utama sekresi asam hidroklorida.
- 3) Fase intestinal,
dimulai oleh gerakan kimus dari lambung ke duodenum. Adanya
protein yang telah dicerna sebagian dalam duodenum tampaknya
merangsang gastrin usus, suatu hormone yang menyebabkan lambung terus
menerus mensekresikan cairan langsung.
Adapun fungsi lambung menurut Price, Sylvia, A, et al, 1995, yaitu :
- 1) Fungsi motorik yang terdiri dari :
- a)
Fungsi reservoir, menyimpan makanan sampai sedikit demi sedikit
bergerak pada saluran cerna, menyesuaikan peningkatan volume
tanpa menambah tekanan dengan relaksasi.
- b) Fungsi mencampur, memecah makanan menjadi partikel-partikel kecil dan mencampurnya dengan getah lambung.
- c) Fungsi pengongsongan lambung; diatur oleh factor syaraf dan hormonal.
- 2) Fungsi pencernaan dan sekresi
- a) Pencernaan protein oleh pepsin dan Hcl.
- b) Sintesis dan pelepasan gastrin.
- c) Sekresi factor intrinsic.
- d) Sekresi mucus.
3. Usus-halus
Chyme memasuki duodenum (bagian awal usus halus) dan diurai lebih
lanjut oleh cairan pencernaan dari hati dan pankreas. Tahap akhir
pencernaan berlanjut di bagian usus halus berikutnya. Di sini, cairan
pencernaan yang dikeluarkan dari dinding usus halus memecah zat
makanan menjadi unit-unit kimia yang cukup kecil sehingga bisa
menerobos dinding usus halus dan memasuki jaringan pembuluh darah di
sekitarnya.
Usus halus merupakan suatu tabung yang kompleks,
berlipat-lipat, dan membentang dan pilorus hingga katup ileosekal.
Panjang usus halus pada orang hidup sekitar 12 kaki (3,6 m) dan hampir
22 kaki (6,6 m) pada kadaver (akibat relaksasi). Usus ini mengisi
bagian tengah dan bawah rongga abdomen. Ujung proksimalnya berdiameter
sekitar 3,8 cm, tetapi makin ke bawah garis tengahnya semakin
berkurang sampai menjadi sekitar 2,5 cm. (Price & Wilson, 2006,
Patofisiologi, hal : 437)
Usus halus terdiri dari :
Adalah
bagian terpendek (25 sampai 30 cm). Duktus empedu dan duktus
pankreas, keduanya membuka ke dinding posterior duodenum beberpa
sentimeter di bawah mulut pilorus.
Adalah bagian yang selanjutnya. Panjangnya kurang lebih 1 m sampai 1,5 m.
2 sampai 2,5 meter merentang sampai menyatu dengan usus besar.
Apendiks
vermiforinis berbentuk tabung buntu berukuran sebesar jari kelingking
yang terletak pada daerah ileosekal, yaitu pada apeks sekum.
Peradangan atau ruptura struktur ini merupakan penyebab penting
kematian pada orang muda, walaupun frekuensinya kini lebih jarang
menyebabkan kematian dibandingkan dengan masa sebelum ditemukannya
antibiotik.
(Price & Wilson, 2006, Patofisiologi, hal : 438)
Dinding
usus halus terdiri atas 4 lapisan dasar. Yang paling luar (lapisan
serosa) dibentuk oleh peritoneum. Peritoneum mempunyai lapisan viseral
dan parietal, dan ruang yang terletak di antara lapisan-lapisan ini
disebut sebagai rongga peritoneum. Peritoneum melipat dan meliputi
hampir seluruh visera abdomen.
(Price & Wilson, 2006, Patofisiologi, hal : 438)
Nama-nama
khusus telah diberikan pada lipatan-lipatan peritoneum. Mesenterium
merupakan lipatan peritoneum lebar menyerupai kipas yang menggantung
jejunum dan ileum dari dinding posterior abdomen, dan memungkinkan
usus bergerak dengan leluasa. Mesenterium menyokong pembuluh darah dan
limfe yang menyuplai ke usus. Omentum majus merupakan lapisan ganda
peritoneum yang menggantung dan kurvatura major lambung dan berjalan
turun di depan visera abdomen menyerupai celemek. Omentum biasanya
mengandung banyak lemak dan kelenjar limfe yang membantu melindungi
rongga peritoneum terhadap infeksi. Omentum minus merupakan lipatan
peritoneum yang terbentang dan kurvatura minor larnbung dan bagian
atas duodenum, menuju ke hati, membentuk ligamentum suspensorium
hepatogastrika dan ligamentum hepatoduodenale. Salah satu fungsi penting
peritoneum adalah mencegah gesekan antara organ-organ yang berdekatan
dengan cara menyekresi cairan serosa yang berperan sebagai pelumas.
Peradangan peritoneum disebut peritonitis dan dapat merupakan sekuele
berat akibat peradangan atau perforasi usus. Setelah
peritonitis atau pembedahan abdomen, dapat terjadi perlekatan
(pita-pita fibrosa) dan kadang-kadang menyebabkan obstruksi usus. (Price
& Wilson, 2006, Patofisiologi, hal : 438)
Otot
yang melapisi usus halus mempunyai dua lapisan: lapisan luar terdiri
atas serabut-serabut longitudinal yang lebih tipis, dan lapisan dalam
terdiri atas serabut-serabut sirkular. Penataan yang demikian membantu
gerakan peristaltik usus halus. Lapisan submukosa terdiri atas
jaringan ikat, sedangkan lapisan mukosa bagian dalam tebal serta
banyak mengandung pembuluh darah dan kelenjar. (Price & Wilson,
2006, Patofisiologi, hal : 438)
Usus
halus dicirikan dengan adanya tiga struktur yang sangat menambah luas
permukaan dan membantu fungsi utamanya yaitu absorpsi. Lapisan mukosa
dan submukosa membentuk lipatan-lipatan sirkular yang disebut sebagai
valvula koniventes (lipatan Kerckring) yang menonjol ke dalam lumen
sekitar 3 sampai 10 mm. Adanya lipatan-lipatan ini menyebabkan
gambaran usus halus menyerupai bulu pada pemeriksaan radiografi. Vili
merupakan tonjolan-tonjolan mukosa seperti jari-jari yang jumlahnya
sekitar empat atau lima juta dan terdapat di sepanjang usus halus.
Vili panjangnya 0,5 sampai 1,5 mm (dapat terlihat secara makroskopis)
dan menyebabkan gambaran mukosa menjadi menyerupai beludru. Mikrovili
merupakan tonjolan menyerupai jari-jari yang panjangnya sekitar 1 m
pada permukaan luar setiap vilus. Mikrovili terlihat dengan
pemeriksaan mikroskop elektron dan tampak sebagai brush border pada
pemeriksaan mikroskop cahaya. Bila lapisan permukaan usus halus ini rata, maka luas permukaannya hanya sekitar 2.000 cm2. Valvula koniventes, vili, dan mikrovili sama-sama menambah luas permukaan absorpsi hingga 1,6 juta cm2,
yaitu meningkat sekitar seribu kali lipat. Penyakit-penyakit usus
halus (mis., sprue) yang menyebabkan terjadinya atrofi dan pendataran
vili, sangat mengurangi luas permukaan absorpsi dan mengakibatkan
terjadinya malabsorpsi. (Price & Wilson, 2006, Patofisiologi, hal :
438)
Struktur Vilus
Tiap-tiap
vilus tendiri atas saluran limfe sentral yang disebut sebagai lakteal
yang dikelilingi oleh jalinan kapiler darah dalam jaringan ikat.
Jaringan ikat sendiri dikelilingi oleh sel-sel epitel toraks. Makanan
yang telah dicerna akan masuk ke dalam lakteal dan kapiler vilus.
Epitel vilus terdiri atas dua jenis sel: sel goblet penghasil mukus,
dan sel absorptif (dengan mikrovili yang menonjol dan permukaannya),
yang bertanggungjawab atas absorpsi bahan makanan yang telah tercerna.
Enzim-enzim terletak pada brush border dan menyelesaikan proses
pencernaan saat berlangsungnya absorpsi.
(Price & Wilson, 2006, Patofisiologi, hal : 438)
Di
sekeliling vilus terdapat beberapa sumur kecil yang disebut kripte
Lieberkuhn. Kripta ini merupakan kelenjar-kelenjar usus yang
menghasilkan sekret yang mengandung enzim-enzim pencernaan. Sel-sel
yang tidak berdiferensiasi di dalam kripta Lieberkuhn, berproliferasi
cepat dan bermigrasi ke ujung vilus, tempat menjadi sel-sel absorptif.
Pada ujung vilus, sel-sel ini akan
lepas ke dalam usus. Pematangan dan migrasi sel dan kripta ke ujung
vilus hanya membutuhkan waktu selama sampai 7 hari. Diperkirakan
sekitar 20 sampai 50 Juta sel epitel dilepaskan ke dalam lumen usus
setiap menit. Laju pergantian sel tinggi (tercepat dalam tubuh),
sehingga epitel usus sangat rentan terhadap perubahan proliferasi sel.
Obat-obat sitotoksik yang diberikan untuk kanker atau leukemia
menghambat pembelahan sel, mengakibatkan atrofi mukosa dan pemendekan
kripta maupun vili. Penderita yang
mendapat obat-obat ini sering mengalami ulserasi pada saluran
gastrointestinal. Pada sprue, vili dapat memendek atau hilang.
(Price & Wilson, 2006, Patofisiologi, hal : 438)
Pendarahan dan Persarafan
Arteria
mesenterika superior dicabangkan dan aorta tepat di bawah arteri
seliaka. Arteria ini mendarahi seluruh usus halus kecuali duodenum
yang diperdarahi oleh artenia gastroduodenalis dan cabangnya, arteria
pankreatiko duodenalis superior. Darah dikembalikan lewat vena
mesenterika superior yang menyatu dengan vena lienalis membentuk vena
porta.
Usus halus
dipersarafi oleh cabang-cabang sistem saraf otonom. Rangsangan
parasimpatis merangsang aktivitas sekresi dan motilitas, dan
rangsangan simpatis menghantarkan nyeni, sedangkan serabut-serabut
parasimpatis mengatur refleks usus. Suplai saraf intrinsik, yang
menimbulkan fungsi motorik, becrjalan melalui pleksus Auerbach yang
terletak dalam lapisan muskularis, dan pleksus Meissner di lapisan
submukosa.
(Price & Wilson, 2006, Patofisiologi, hal : 439)
FISIOLOGI
Usus
halus mempunyai dua fungsi utama: (1) pencernaan, yaitu proses
pemecahan makanan menjadi bentuk yang dapat tercerna melalui kerja
berbagai enzim dalam saluran gastrointestinal, dan (2) absorpsi
bahan-bahan nutrisi dan air. Semua aktivitas lainnya mengatur atau
mempermudah berlangsungnya proses ini. Proses pencernaan dimulai dalam
mulut dan lambung oleh kerja ptialin, HCI, pepsin, mukus, renin, dan
lipase lambung terhadap makanan yang masuk. Proses ini berlanjut dalam
duodenum terutama oleh kerja enzim-enzim pankreas yang menghidrolisis
karbohidrat, lemak, dan protein menjadi zat-zat yang lebih sederhana.
Mukus juga memberikan perlindungan terhadap asam. Sekresi empedu dan
hati membantu proses pencernaan dengan mengemulsikan lemak sehingga
memberikan permukaan yang lebih luas bagi kerja lipase pankreas.
(Price & Wilson, 2006, Patofisiologi, hal : 439)
Kerja
empedu terjadi akibat sifat deterjen asam-asam empedu yang dapat
melarutkan zat-zat lemak dengan membentuk misel. Misel merupakan
agregat asam empedu dan molekul-moliekul lemak. Lemak membentuk inti
hidrofobik, sedangkan asam empedu karena merupakan molekul polar,
membentuk permukaan misel dengan ujung hidrofobik mengarah ke dalam
dan ujung hidrofilik menghadap ke luar menuju medium cair. Bagian
sentral misel juga melarutkan vitamin-vitamin larut lemak dan
kolesterol. Jadi, asam-asam lemak bebas, gliserida dan vitamin
larut-lemak dipertahankan dalam larutan sampai dapat diabsorpsi oleh
permukaan sel epitel.
(Price & Wilson, 2006, Patofisiologi, hal : 439)
Proses
pencernaan disempurnakan oleh sejumlah enzim yang terdapat dalam
getah usus (sukus enterikus). Banyak enzim-enzim ini terdapat pada
brush border villi dan mencerna zat-zat makanan sambil diabsorpsi.
(Price & Wilson, 2006, Patofisiologi, hal : 440)
Dua
hormon berperan penting dalam pengaturan pencernaan usus. Lemak yang
bersentuhan dengan mukosa duodenum menyebabkan kontraksi kandung
empedu yang diperantarai oleh kerja kolesistokinin. Hasil-hasil
pencernaan protein tak lengkap yang bersentuhan dengan mukosa duodenum
merangsang sekresi getah pankreas yang kaya enzim ; hal ini
diperantarai oleh kerja pankrezimin. Pankreaozimin dan kolesistokinin
sekarang diduga merupakan satu hormon yang sama dengan efek berbeda;
hormon ini disebut scbagai CCK (beberapa buku teks menyebut hormon ini
CCK-PZ). Hormon ini dihasilkan oleh mukosa duodenum. (Price &
Wilson, 2006, Patofisiologi, hal : 440)
Asam
lambung yang bersentuhan dengan mukosa usus menyebabkan
dikeluarkannya horrnon lain, yaitu sekretin, dan jumlah yang
dikeluarkan sebanding dengan jumlah asam yang mengalir melalui
duodenum. Sekretin merangsang sekresi getah yang mengandung bikarbonat
dan pankreas, merangsang sekresi empedu dari hati, dan memperbesar
kerja CCK.
Pergerakan
segmental usus halus mencampur zat-zat yang dimakan dengan sekret
pankreas, hepatobiliar, dan sekresi usus, dan pergerakan peristaltik
mendorong isi dan salah satu ujung ke ujung lain dengan kecepatan yang
sesuai untuk absorpsi optimal dan asupan kontinu isi lambung. (Price
& Wilson, 2006, Patofisiologi, hal : 440)
Absorpsi
Absorpsi
adalah pemindahan hasil-hasil akhir pencernaan karbohidrat, lemak,
dan protein (gula sederhana, asam lemak, dan asam amino) melalui
dinding usus ke dalam sirkulasi darah dan limfe untuk digunakan oleh
sel-sel tubuh. Selain itu juga diabsorpsi air, elektrolit, dan
vitamin. Absorpsi berbagai zat berlangsung dengan mekanisme transpor
aktif dan pasif yang sebagian besar belum begitu dipahami.
Walaupun
banyak zat yang diabsorpsi di sepanjang usus halus, namun terdapat
tempat-tempat absorpsi khusus bagi zat-zat gizi tertentu.
Tempat-tempat absoprsi ini penting diketahui agar dapat memahani
proses terjadinya defisiensi nutrisi tertentu akibat penyakit pada
usus halus.
Absorpsi
gula, asam amino, dan Jemak hampir selesai pada saat kimus mencapai
pertengahan jejunum. Besi dan kalsium sebagian besar diabsorpsi dalam
duodenum dan jejunum, dan absorpsi kalsium memerlukan vitamin D.
Vitamin larut-lemak (A, D, F, dan K) diabsorpsi dalam duodenum dan
untuk absorpsi dibutuhkan garam-garam empedu. Sebagian besar vitamin
yang larut-air diabsorpsi dalam usus halus bagian atas. Absorpsi
vitamin B12 berlangsung dalam ileum terminalis melalui mekanisme
transpor khusus yang membutuhkan faktor intrinsik lambung. Sebagian
besar asam empedu yang dikeluarkan oleh kandung empedu ke dalam
duodenum untuk membantu pencernaan lemak, akan direabsorpsi dalam
ileum terminalis dan masuk kembali ke hati. Siklus ini disebut sebagai
sirkulasi enterohepatik garam empedu dan sangat penting untuk
mempertahankan cadangan empedu. Dengan demikian asam atau garam empedu
manipu bekerja untuk mencema lemak berkali-ka1i sebelum dikeluarkan
dalam feses. Penyakit atau reseksi pada ileum terminalis dapat
menyebabkan terjadinya defisiensi garam-garam empedu dan mengganggu
pencernaan lemak. Masuknya garam empedu dalam jumlah besar ke dalam
kolon menyebabkan terjadinya iritasi kolon dan diare.
(Price & Wilson, 2006, Patofisiologi, hal : 441)
4. Ususbesar
Setelah
zat makanan terserap di usus halus, zat sisa disalurkan ke usus
besar. Kebanyakan kandungan airnya diserap kembali ke dalam tubuh, dan
zat buang semi-padat sisanya (tinja) bergerak ke rectum, untuk
disimpan sampai dikeluarkan melalui anus.
Usus besar atau
kolon berbentuk tabung muskular berongga dengan panjang sekitar 1,5 m
(5 kaki) yang terbentang dari sekum hingga kanalis ani. Diameter usus
besar sudah pasti lebih besar daripada usus kecil, yaitu sekitar 6,5cm
(2,5 inci), tetapi makin dekat anus diameternya semakin kecil.
Usus
besar dibagi menjadi sekum, kolon, dan rektum. Pada sekum terdapat
katup ileosekal dan apendiks yang melekat pada ujung sekum. Sekum
menempati sekitar dua atau tiga inci pertama dari usus besar. Katup
ileosekal mengendalikan aliran kimus dan ileum ke dalam sekum dan
mcncegah terjadinya aliran balik bahan fekal dan usus besar ke dalam
usus halus. Kolon dibagi lagi menjadi kolon
asenden, transversum, desenden, dan sigmoid . Tempat kolon membentuk
kelokan tajam pada abdomen kanan dan kiri atas berturut-turut disebut
sebagai fleksura hepatika dan fleksura lienalis. Kolon sigmoid mulai
setinggi krista iliaka dan membentuk lekukan berbentuk-S. Lekukan
bagian bawah membelok ke kiri sewaktu kolon sigmoid bersatu dengan
rektum, dan hal ini merupakan alasan anatomis, mengapa memposisikan
penderita kesisi kiri saat pemberian enema. Pada posisi ini, gaya
gravitasi membantu mengalirkan air dan rektum ke fleksura sigmoid.
Bagian utama usus besar yang terakhir disebut sebagai rektum dan
membentang dan kolon sigmoid hingga anus (muara ke bagian luar tubuh).
Satu inci terakhir dan rektum disebut sebagai kanalis ani dan
dilindungi oleh otot sfingter ani eksternus dan internus. Panjang
rektum dan kanalis ani adalah sekitar 15 cm (5,9 inci).
Hampir seluruh usus besar memiliki empat lapisan morfologik seperti yang ditemukan pada bagian usus lain. Namun
demikian, ada beberapa gambaran yang khas terdapat pada usus besar
saja. Lapisan otot longitudinal usus besar tidak sempurna, tetapi
terkumpul dalam tiga pita yang disebut sebagai taenia koli. Taenia
bersatu pada sigmoid distal, sehingga rektum mempunyai satu lapisan
otot longitudinal yang lengkap. Panjang taenia lebih pendek daripada
usus, sehingga usus tertarik dan berkerut membentuk kantong-kantong
kecil yang disebut sebagai haustra. Apendises epiploika adalah
kantong-kantong kecil peritoneum yang berisi lemak dan melekat di
sepanjang taenia. Lapisan mukosa usus besar jauh lebih tebal daripada
lapisan mukosa usus halus dan tidak mengandung vili atau rugae. Kripte
Lieberkhhn (kelenjar intestinal) terletak lebih dalam dan mempunyai
lebih banyak sel goblet dibandingkan dengan usus halus.
Usus
besar secara klinis dibagi menjadi belahan kiri dan kanan berdasarkan
pada suplai darah yang diterima. Arteria mesenterika superior
mendarahi belahan kanan (sekum, kolon asendens, dan dua pertiga
proksimal koion transvensum), dan arteria mesenterika inferior
mendarahi belahan kiri (sepertiga distal kolon transversum, kolon
desendens, kolon sigmoid, dan bagian proksimal rektum). Suplai darah
tambahan ke rektum berasal dari arteri hemoroidalis media dan inferior
yang dicabangkan dan arteria iliaka interna dan aorta abdominalis.
Aliran
balik vena dari kolon dan rektum superior adalah melalui vena
mesenterika superior, vena mesenterika inferior, dan vena hemoroidalis
superior (bagian sistem portal yang mengalirkan darah ke hati). Vena
hemoroidalis media dan inferior mengalirkan darah ke vena iliaka
sehingga merupakan bagian sirkulasi sistemik. Terdapat anastomosis
antara vena hemoroidalis superior, media, dan inferior, sehingga
tekanan portal yang meningkat dapat menyebabkan terjadinya aliran
balik ke dalam vena dan mengakibatkan hemoroid.
Persarafan
usus besar dilakukan oleh sistem saraf otonom dengan perkecualian
sfingter ekstema yang berada dalam pengendalian voluntar. Serabut
parasimpatis berjalan melalui saraf vagus ke bagian tengah kolon
transversum, dan saraf pelvikus yang berasal dari daerah sakral
menyuplai bagian distal. Serabut simpatis meninggalkan medula spinalis
melalui saraf splangnikus. Serabut saraf ini bersinaps dalam ganglia
seliaka dan aortikorenalis, kemudian serabut pasca ganglionik menuju
kolon. Rangsangan simpatis menghambat sekresi dan kontraksi, serta
merangsang sfingter rektum. Rangsangan parasimpatis mempunyai efek
yang berlawanan.
Usus besar memiliki berbagai fungsi yang semuanya berkaitan dengan proses akhir isi usus.
Usus
besar yang paling penting adalah absorpsi air dan elektrolit, yang
sudah hampir selesai dalam kolon dekstra. Kolon sigmoid berfungsi
sebagai reservoir yang menampung massa feses yang sudah terdehidrasi
hingga berlangsungnya defekasi.
Kolon
mengabsorpsi sekitar 800 ml air per hari, bandingkan dengan usus
halus yang mengabsorpsi sekitar 8.000 ml. Namun demikian, kapasitas
absorpsi usus besar adalah sekitar 1500 hingga 2000 ml/hari. Bila
jumlah ini dilampaui (misalnya akibat hantaran cairan berlebihan dari
ileum) akan mengakibatkan diare. Berat akhir feses yang dikeluarkan
perhari sekitar 200 g, dan 80 hingga 90% diantaranya adalah air.
Sisanya terdiri dari residu makanan yang tidak terabsorpsi, bakteri, sel
epitel yang terlepas, dan mineral yang tidak terabsorpsi.
Sejumlah
kecil pencernaan dalam usus besar terutama disebabkan oleh bakteri
dan bukan oleh kerja enzim. Usus besar menyekresi mukus alkali yang
tidak mengandung enzim. Mukus ini bekerja untuk melumas dan melindungi
mukosa.
Bakteri
usus besar menyintesis vitamin K dan beberapa vitamin B. Pembusukan
oleh bakteri dari sisa protein menjadi asam amino dan zat yang lebih
sederhana seperti peptida, indol, skatol, fenol, dan asam lemak. Bila
asam lemak dan HCI dinetralisasi oleh bikarbonat, akan dihasilkan
karbondioksida (C02). Pembentukan berbagai gas seperti NH3, CO2. l-l,
H2S dan CH4 membantu pembentukan gas (flatus) dalam kolon. Beberapa
subtansi ini dikeluarkan dalam feses, sedangkan zat lain diabsorpsi
dan diangkut ke hati untuk diubah menjadi senyawa yang kurang toksik
dan diekskresikan melalui urine.
Fermentasi
bakteri pada sisa karbohidrat juga melepaskanCO2, H2 dan CH4 yang
juga berperan dalam pembentukan flatus dalam kolon. Dalam sehari
secara normal dihasilkan sekitar 1.000 ml flatus. Kelebihan gas dapat
terjadi pada aerofagia (menelan udara secara berlebihan), dan pada
peningkatan gas dalam lumen usus (biasanya berkaitan dengan jenis
makanan yang dimakan). Makanan yang mudah membentuk gas seperti
kacang-kacangan mengandung banyak karbohidrat yang tidak dapat
dicerna.
Pada
umumnya usus besar bergerak secara lambat. Gerakan usus besar yang
khas adalah gerakan pengadukan haustral. Kantong atau haustra meregang
dan dan waktu ke waktu otot sirkular akan berkontrasi untuk
mengosongkannya. Gerakan ini tidak progresif, tetapi menyebabkan isi
usus bergerak bolak-balik dan meremas-nemas sehingga memberi cukup
waktu untuk terjadinya absorpsi. Terdapat dua jenis peristaltik
propulsif (1) kontraksi lambat dan tidak teratur, berasal dari segmen
proksimal dan bergerak ke depan, menyumbat beberapa haustral dan (2)
peristaltik massa, merupakan kontraksi yang melibatkan segmen kolon. Gerakan
peristaltik ini menggerakkan massa feses ke depan, akhirnya
merangsang defekasi. Kejadian ini timbul dua sampai tiga kali sehari
dan dirangsang oleh refleks gastrokolik setelah makan, terutama
setelah makanan yang pertama kali dimakan pada hari itu.
Propulsi
feses ke dalam rektum menyebabkan terjadinya distensi dinding rektum
dan merangsang refleks defekasi. Defekasi dikendalikan oleh sfingter
ani eksterna dan interna. Sfingten intema dikendalikan oleh sistem
saraf otonom, sedangkan sfingter ekstenna dikendalikan oleh sistem
saraf voluntar. Refleks defekasi
tenintegrasi pada medula spinalis segmen sakral kedua dan keempat.
Serabut parasimpatis mencapai rektum melalui saraf splangnikus panggul
dan menyebabkan terjadinya kontraksi rektum dan refaksasi stingIer
intema. Pada waktu rektum yang teregang berkontraksi, otot levator ani
berelaksasi, sehingga menyebabkan sudut dan anulus anorektal
menghilang. Otot sfingter interna dan eksterna berelaksasi pada waktu
anus tertarik ke atas melebihi tinggi massa feses. Defekasi dipercepat
dengan tekanan intraabdomen yang meningkat akibat kontraksi voluntar
otot dada dengan glotis yang tertutup, dan kontraksi otot abdomen
secara terus-menerus (manuver atau peregangan Valsalva). Defekasi dapat
dihambat oleb kontraksi voluntar otot stingter eksterna dan levator
ani. Dinding rektum secara bertahap menjadi relaks, dan keinginan
defekasi menghilang.
Rektum
dan anus merupakan lokasi sebagian penyakit yang sering ditemukan
pada manusia. Penyebab umum konstipasi adalah kegagalan pengosongan
rektum saat terjadi peristaltik massa. Bila defekasi tidak sempurna,
rektum menjadi relaks dan keinginan defckasi menghilang. Air tetap
terus diabsorpsi dan massa feses, sehingga feses menjadi keras, dan
menyebabkan lebih sukarnya defekasi selanjutnya. Bila massa feses yang
keras ini terkumpul di satu tempat dan tidak dapat dikeluarkan, maka
disebut sebagai impaksi feses. Tekanan pada feses yang berlebihan
menyebabkan timbulnya kongesti vena hemoroidalis interna dan eksterna,
dan hal ini merupakan salah salu penyebab hemoroid (vena vanikosa
rektum). Inkontinensia feses dapat disebabkan oleh kerusakan otot
sfingter ani atau gangguan medula spinalis. Daerah anorektal sering
merupakan tempat terjadinya abses dan fistula. Kanker kolon dan rektum
merupakan kanker saluran gastrointeslinal yang paling sering terjadi.
KERJA KOLON
Dalam
4 jam setelah makan, nutrisi sisa residu melewati ileum terminalis
dan dengan perlahan melewati bagian proksimal kolon melalui katup
ileosekal.
Katup
ini, yang secara normal tertutup, membantu mencegah isi kolon mengalir
kembali ke usus halus. Pada setiap gelombang peristaltik, katup
terbuka secara dingkat dan memungkinkan sebagian isinya masuk ke
kolon.
Populasi
bakteri adalah komponen utama dari isis usus besar. Bakteri membantu
menyelesaikan pemecahan materi sisa dan garam empedu. Dua
jenis sekresi kolon ditambahkan pada materi sisa mukus dan larutan
elektrolit. Larutan elektrolit adalah larutan bicarbonat yang bekerja
untuk menetralisir produk akhir yang terbentuk melalui kerja bakteri
kolonik. Mukus ini melindungi mukosa kolon dari isi interluminal dan juga memberikan perlekatan untuk massa fekal.
Aktivitas
peristaltik yang lemah menggerakkan isi kolonik dengan perlahan
sepanjang saluran. Transport lambat ini memungkinkan reabsorpsi
efisien terhadap air dan elektrolit. Gelombang peristaltik kuat
intermitten mendorong isi untuk jarak tertentu. Hal ini terjadi secara
umum setelah makanan lain di makan, bila hormon perangsang usus
dilepaskan. Materi sisa dari makanan dalam kira-kira 12 jam. Sebanyak
seperempat dari materi sisa dari makanan mungkin tetap berada di
rektum 3 hari setelah m
5. Hati, empedu, dan pankreas
Hati, empedu, dan pankreas membantu mengurai makan secara kimia. Hati
menggunakan hasil pencernaan untuk membuat protein seperti antibodi
(untuk membantu kita melawan infeksi) dan faktor pembekudarah. Hati
juga mengurai sel darah yang usang dan mengeluarkan buangannya sebagai
bile, yang disimpan di empedu dan berperan dalam pencernaan lemak.
Masuknya makanan ke dalam duodenum (pangkal usus halus) merangsang
empedu untuk melepas bile ke dalam duodenum melalui saluran bile.
Pankreas mengeluarkan cairan pencerna yang kuat, yang dikeluarkan ke
duodenum begitu makanan memasukinya. Bersama cairan pencema yang
dihasilkan permukaan dinding usus halus, mereka mengurai nutrien
menjadi zat-zat yang terserap dalam darah dan dibawa ke hati.
6. Peristaltik Makanan didorong sepanjang saluran pencernaan oleh serangkaian kontraksi otot yang disebut peristaltik. Semua
dinding saluran pencernaan dilapisi dengan otot lembut. Untuk
menggerakkan segumpal makanan (bolus) maju, otot-otot di belakang
makanan berkontraksi sementara otot di depannya mengendur.
Gelombang peristaltik
Untuk menggerakkan makanan melalui saluran pencernaan, otot-otot di
dinding berkontraksi dan mengendur berturutan. Hal itu disebut
gelombang peristaltik.
Sumber : Smith, T., Davidson, S., "Dokter Di Rumah Anda", Dian Rakyat, 2005.
|